Jumat, 03 Februari 2012

Manggis dan Beragam Khasiatnya


SIDO MUNCUL HERBAL > Buah manggis telah lama dikenal sebagai buah yang nikmat dan menyegarkan, memiliki kandungan serat yang tinggi, sekaligus berkhasiat menyembuhkan sariawan dan mengatasi demam. Dijuluki “Ratu Buah-buahan Tropis”, manggis yang dipercaya berasal dari daerah Kepulauan Maluku di Indonesia ini telah dikonsumsi oleh berbagai lapisan masyarakat sejak dulu.

Bagian dari buah manggis yang diketahui sangat penting—selain daging buahnya yang mengandung serat-serat alami yang membantu proses pencernaan dan juga sejumlah nutrisi lainnya yang bermanfaat bagi tubuh—adalah kulitnya yang berwarna keunguan. Memang, beberapa teknik pengobatan tradisional yang dikenal di kawasan Asia Tenggara menggunakan kulit manggis untuk mengobati macam-macam penyakit, mulai dari mengatasi diare dan disentri, mencegah infeksi, hingga mengurangi radang dan pembengkakan.

Khasiat kulit manggis yang spektakuler boleh jadi berasal dari kandungan xanthone, sejenis senyawa organik, yang ditemukan dalam konsentrasi sangat tinggi di dalamnya. Berdasarkan penelitian di berbagai negara, xanthone diyakini merupakan salah satu kelompok zat antioksidan yang paling kuat yang bisa ditemukan di alam.

Xanthone dalam kulit buah manggis dipercaya memiliki banyak khasiat bagi kesehatan kita, antara lain:

* Membantu memulihkan kondisi sel-sel yang rusak akibat radikal bebas

* Menurunkan kemungkinan terjadinya penyakit jantung, penumpukan plak dalam pembuluh darah, hipertensi, dan pembekuan darah secara berlebihan (thrombosis)

* Mencegah efek degeneratif sel-sel tubuh dan kepikunan

* Menyebabkan vasorelaksasi, sehingga meningkatkan aliran darah di seluruh tubuh

* Menghadirkan efek antidepresan untuk mengurangi stres

* Memiliki efek antioksidan, antiradang, antikanker, antialergi yang sangat kuat potensinya

* Meningkatkan kekebalan tubuh untuk memerangi virus, bakteri, dan sumber penyakit lainnya

Dengan demikian, di tengah kondisi kehidupan modern di mana kita sering sekali terpapar radikal bebas dan bahan kimia dalam jumlah yang berlimpah dari apa yang kita hirup dan kita konsumsi, keberadaan xanthone dalam tubuh kita tentunya akan membawa dampak yang baik dan menyehatkan.

Di samping itu, kulit manggis juga telah terbukti membantu melangsingkan tubuh, mencegah pengeroposan tulang, mencegah terbentuknya batu ginjal, memperhalus kulit, menurunkan kadar gula dalam darah, menghilangkan kelelahan fisik, mengurangi rasa nyeri, memulihkan luka pada saluran pencernaan, dan mencegah pendarahan pada gusi. Penelitian terbaru dari kulit buah manggis adalah bahwa zat xanthone di dalamnya berpotensi mencegah penyebaran HIV yang menyebabkan AIDS.

Karena tidak bisa dikonsumsi secara langsung seperti halnya dengan daging buahnya, kulit buah manggis haruslah diproses terlebih dahulu agar dapat bermanfaat bagi tubuh.

Melalui proses-proses yang alami dan berteknologi tinggi, kini SidoMuncul telah menghadirkan ekstrak kulit manggis dengan kandungan xanthone yang bermanfaat di dalamnya melalui produk SidoMuncul Sari Kulit Manggis, yang tersedia di portal ini. Dapatkan segera dan pertahankan gaya hidup sehat Anda.

Sabtu, 21 Januari 2012

Imlek dan Solidaritas Sosial



Imlek dan Solidaritas Sosial
Oleh Achmad Fauzi

SUARA KARYA - ONLINE >>>Jumat, 20 Januari 2012
Warga Tionghoa kembali merayakan Imlek 2563. Ragam suasana kemeriahan dalam menyambut Tahun Baru China itu menghiasi sudut-sudut kota. Berbagai ornamen Imlek mulai dari lampu lampion, gambar para dewa, hio dan dupa, patung naga, dan ucapan selamat 'Gong Xi Fa Cai', terpajang di banyak toko, mal, tak terkecuali perumahan-perumahan etnik Tionghoa.

Pasca-Keputusan Presiden (Keppres) No. 6 Tahun 2000 yang memberikan kebebasan etnik Tionghoa kembali menjalankan acara-acara agama, kepercayaan, dan adat-istiadat, memberikan harapan baru bagi warga Tionghoa setelah puluhan tahun mengalami politik diskriminasi. Imlek yang dahulu dirayakan secara sembunyi-sembunyi, kini menjadi perayaan terbuka.

Namun, perayaan Imlek 2563 tidak cukup diukur dengan gemerlapnya lampion, patung dewa, ucapan selamat Gong Xi Fa Cai dan kemewahan Imlek lainnya. Imlek diharapkan menjadi perayaan yang tidak melupakan kondisi sosial sekitarnya. Ibarat anggota badan, yang satu sedang tertimpa musibah, yang lain ikut berempati.

Imlek harus menjadi momentum untuk membuktikan kepada khalayak bahwa etnik Tionghoa betul-betul menjadi seorang Indonesia yang menyorot segala problem dan kepentingan orang Indonesia-Tionghoa dari bingkai kepentingan bangsa Indonesia, bukan ikatan primordial. Ini juga menjadi strategi esensialisme, di mana karakter masyarakat Tionghoa sebagai entitas sosial yang peduli terhadap sesama kembali dihadirkan dalam proses politik pengakuan (politics of recognition).

Banyak kesaksian bahwa warga keturunan Tionghoa mengaku benar-benar menjadi orang Indonesia (yang beretnik) Tionghoa, bukan lagi seorang 'Tionghoa Indonesia' yang cenderung kurang patriotik dan terkadang diragukan status kewarganegaraannya. Artinya, orang Indonesia Tionghoa adalah bagian yang tak terpisahkan dari Bangsa Indonesia. Berfikir, bersikap dan berperilaku sebagai orang Indonesia, menyorot segala problem dan kepentingan orang Indonesia Tionghoa dari bingkai kepentingan Bangsa Indonesia. Orang Indonesia Tionghoa adalah orang yang dilahirkan, tumbuh, berkembang, berkarya dan mati di bumi Pertiwi sebagai orang Indonesia.

Kini, warga Tionghoa punya tanggung jawab besar dalam membangun, membela, dan mempertahankan Indonesia dari segala potensi munculnya disintegrasi. Patriotisme tidak cukup dibuktikan dengan penghormatan kepada bendera merah putih di setiap upacara Hari Proklamasi Kemerdekaan. Warga Tionghoa bukan sebagai komunitas pasif, melainkan mempunyai tugas menjaga persatuan dan kesatuan dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika. Karena nasionalisme dan patriotisme dibangun berdasar Indonesia multikultural, maka segala identitas peradaban, etnik, budaya maupun agama yang dimiliki harus diolah secara produktif untuk menghindari konflik rasial yang dapat merusak keutuhan bangsa. Warga Tionghoa juga berkewajiban sebagai penghantar yang baik dalam konteks kerja sama ekonomi, pendidikan dan budaya, antara Indonesia-China.

Sejatinya Imlek merupakan perayaan yang dilakukan oleh para petani di China berkaitan dengan datangnya musim semi. Ia lebih merupakan sebuah titik penanda dari siklus perubahan alam yang menjadi batas antara berakhirnya musim dingin dan permulaan musim semi. Pada musim semi inilah para petani mulai kembali menggarap lahannya. Namun, mengingat di Tiongkok kuno, banyak pemeluk Konghucu, Tao, atau Buddha, lalu Imlek kental dengan nuansa keagamaan. Bagi pemeluk Konghucu, Imlek merupakan hari raya keagamaan, memperingati kelahiran Konfusius, atau sering disebut Gong Zi.

Biasanya dalam Imlek diisi acara sembahyang kepada Sang Pencipta dan perayaan Cap Go Meh. Tujuan dari persembahyangan ini adalah sebagai wujud syukur dan doa harapan agar di tahun depan mendapat rezeki lebih banyak.

Prof Kong Yuanzhi (2005) melihat Imlek sebagai perayaan yang memiliki relasi dengan sejarah panjang agama dan kepercayaan yang mereka anut, yakni Buddha, Taoisme, Konghucu, nilai-nilai kultus orang tua, dan kepercayaan-kepercayaan tradisional lainnya. Oleh karenanya, Yuanzhi menempatkan Imlek sebagai wahana mempererat nilai-nilai silaturahmi dan kepedulian sosial yang notabene menjadi ajaran fundamental agama Tao.

Bagaimana jika perayaan Imlek difokuskan untuk bersilaturahmi ke panti asuhan atau kegiatan kemanusiaan lainnya? Mungkin kegiatan semacam itu akan lebih bermakna daripada sekadar euforia kebebasan. Apalagi, di Indonesia banyak Paguyuban Masyarakat Tionghoa yang sudah terbiasa bergelut dalam gerakan sosial.

Contohlah, seorang Liem Koen Hian, pendiri Partai Tionghoa Indonesia pada September 1932, yang biarpun bukan hartawan ia selalu memberikan bantuan kepada siapa saja yang memerlukan. Dialah yang sejak semula menjadi pelopor hapusnya diskriminasi rasial demi mempermudah dipupuknya rasa senasib antara semua putera Indonesia, termasuk etnis Tionghoa.

Marilah kita jadikan Imlek sebagai sarana membangun solidaritas sosial. Bukan sebagai ajang unjuk kemewahan yang cenderung elitis dan tak berguna. Imlek memang lahir dari sebuah pengharapan masyarakat agraris terhadap datangnya musim tanam. Namun, dalam perkembangannya bisa diterjemahkan sebagai momentum bagi etnik Tionghoa untuk menabur benih pengharapan kepada orang-orang yang tidak lagi punya harapan, sehingga mereka bisa menata hidupnya kembali seperti layaknya manusia yang memiliki masa depan. ***

Penulis adalah Hakim PA Kotabaru Kalsel,
aktivis multikulturalisme dan dialog lintas agama.

Senin, 14 November 2011

Kisah Saputra, Loper Koran yang Jadi Juara di Markas Milan


DETIK SPORT - Jakarta - Prestasi memang tidak memandang apakah seseorang berasal dari keluarga kaya atau miskin. Saputra (14), seorang remaja yang sehari-harinya menyambi sebagai loper koran, lolos seleksi tim Indonesian All Star. Bersama rekan-rekan satu tim, ia berhasil mempertahankan gelar juara Intesa Sanpaolo Cup 2011.

Saputra dkk menggondol piala Intesa Sanpaolo Cup 2011 yang digelar oleh klub termasyur di Italia, AC Milan. Intesa Sanpaolo Cup sendiri merupakan turnamen tahunan yang menyedot perhatian di Milan Junior Camp Day. Di final 5 November lalu, para remaja asuhan pelatih Bambang Waskito itu menundukkan tim gabungan Venezuela-Brasil dengan skor 2-0.

Sementara dalam ujicoba dengan para pemain junior AC Milan Soccer Academy yang dihelat setelah kejuaraan selesai, tim Indonesian All Star juga menang 3-2. Tim Indonesian All Star merupakan tim pertama yang mengalahkan tim junior AC Milan yang dilatih dengan ketat.

Saputra pun merasa bangga bisa mempersembahkan hasil tersebut. Stiker tim Indonesian All Star ini menceritakan, kekompakan tim menjadi faktor penentu kemenangan. Selain kompak, timnya mempunyai semangat yang luar biasa sehingga mampu menggunguli 25 negara peserta turnamen sepak bola lainnya.

"Tim Indonesia sangat kompak dan terus banyak sekali motivasi. Kalau mau pas di lapangan semangat semua," kata Saputra, yang ditemui di sela-sela pertemuan tim Indonesian All Star dengan Wakil Presiden Boediono di Kantor Wapres, Jakarta Selatan, Kamis (10/11/2011).

Saputra adalah remaja kelahiran Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel), 6 November 1997. Ia berasal dari keluarga yang kurang mampu. Sejak kelas empat SD, Saputra sudah harus bekerja membantu orangtuanya yang beralamat di Jl Bendungan Lrg, Rawa Laut RT 03 RW 01 No 180/199, Palembang.

Untuk membantu perekonomian keluarga, remaja berambut cepak ini tak sungkan menjadi loper koran. Saban pagi, sebelum berangkat ke sekolah, ia menyetor koran ke lapak-lapak dan pelanggan. Setiap hari, uang Rp 15-20 ribu dikantonginya dari berjualan koran. Uang hasil jerih payahnya itu sebagian ia pergunakan untuk jajan dan sebagian lagi diberikan kepada ibunya yang cuma buruh cuci rumah tangga.

"Aku loper koran dari kelas 4 SD sampai kelas 3 SMP. Tapi kelas 3 ini sekolah pagi, jadi cukup untuk langganan bulanan atau di tempat sekolah. Guru-guru kadang beli sama aku," ucap Saputra.

Sebagaimana anak seusianya di Palembang, Saputra juga gemar olah raga sepakbola. Ia mulai menenekuni sepakbola sejak usia 5 tahun. Beranjak sedikit dari umur belianya tersebut, ia masuk ke Sekolah Sepak Bola (SSB) Sportivitas di Palembang. Sayang, gara-gara tidak punya uang, Saputra tidak bisa meneruskan latihan di SSB tersebut.

Pada prosesnya, kenang Saputra, ia memperoleh beasiswa sekolah sepak bola dari PT Pusri. Selama 3 tahun ini, ia giat berlatih di Pusri tiga kali seminggu. Namun, di tengah kesibukan untuk latihan rutin Saputra tetap melakukan pekerjaannya sebagai loper koran. Bahkan, dari aktivitasnya sebagai loper koran tersebut ia mengenal banyak pemain Sriwijaya FC dari dekat.

"Aku kebetulan jualan koran juga di mess-nya. Ya, masih sampai sekarang. Biasa ke kamar Arif Suyono, Supardi Nasir, Firman Utina. Jualan koran pagi, tapi kadang nunggu pemain selesai bangun tidur itu lama. Jadi, ya, sudah kumasukin di bawah pintu, siang baru ambil uangnya," tutur Saputra.

Ke Italia

Saputra tentu ingin meraih meraih prestasi seperti para pemain favoritnya di Sriwijaya FC tersebut. Kesempatan itu pun akhirnya tiba. Tanggal 28 Oktober 2011 lalu, ia mendengar ada penyaringan pemain untuk Indonesian All Star yang akan berlaga di Italia. Bersama temannya, Saputra pun mengikuti seleksi tersebut.

Dengan bekal uang pinjaman Rp 2.000, ia berangkat ke lokasi seleksi di Palembang. Uang itu dibelikan pempek untuk sarapan. Saputra berhasil lolos masuk 250 besar di seleksi pertama. Dan, pada hari berikutnya, tanggal 29 Oktober ia terpilih dalam 60 besar untuk menjalani seleksi di Bali.

"Seterusnya tanggal 29 hari Minggu nggak ada uang, sarapan mie saja sama teh. Udah pas itu saya bangga setelah sore-sore terpilih bisa seleksi 60 di bali. Orangtuaku juga bangga sekali," ucap Saputra.

Karena berteman akrab dengan pemain Sriwijaya FC, Saputra pun menelepon Supardi untuk mengabarkan keberhasilannya menembus 60 besar. "Pas mau ke Bali itu aku telepon Bang Supardi. 'Bang aku lolos. Ada nggak saran buat aku biar nggak cepet puas?' Dari situ aku ada rasa bangga sama dia," kata Saputra.

Di Bali, Saputra kian memuluskan langkah ke Jakarta. Dalam seleksi di Jakarta, ia berhasil masuk ke 18 besar tim yang diberangkatkan ke Italia atas dukungan PT Pertamina (Persero). Menurut Saputra, resepnya untuk berhasil adalah tidak pernah menyerah atau pasrah kepada keadaan.

"Pokoknya jangan nyerah, deh. Ekonomi itu bukan segalanya hal untuk meraih mimpi atau prestasi. Berani untuk bermimpi dan jangan pernah takut. Semua itu pasti ada jalan," kata Saputra bijak.

Mengenai rencana masa depan, Saputra mengaku ingin menjadi pemain sepakbola nasional yang handal. Sedangkan dalam waktu dekat ini, ia akan kembali ke Palembang untuk bersekolah dan berlatih lagi di Pusri. Tetap jualan koran?

"Masih-lah. Dari mana aku bisa jajan sekolah sama buat kasih orang tua?" katanya sambil tersenyum.




( irw / krs )

Kamis, 27 Oktober 2011

Tertawalah! Anda Akan Sehat dan Berumur Panjang



TRIBUNNEWS.COM - Tidak suka dengan humor? Pikir sekali lagi. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa memanjakan selera humor Anda bisa memperpanjang usia, membuat hidup lebih sehat.

Tertawa tidak saja melunturkan stres, meningkatkan kehidupan sosial, dan menurunkan tekanan darah, tapi juga mendorong sistem kekebalan tubuh. Tambah lagi, humor menjadi lebih bernilai ketika umur semakin bertambah, dan dikaitkan dengan kehidupan yang memuaskan. Begitu penelitian yang dilakukan di Swis.

Ingin tahu lebih banyak tentang sisi kesehatan dari humor? Simak 5 fakta mengejutkan dari sisi kesehatan dari humor yang dimuat BBC.

* Lebih mudah bernafas
"Sembilan puluh prosen tertawa melibatkan pernafasan yang dalam," kata Dacher Keltner, Ph.D., guru besar psikologi di University of California di Berkeley dan penulis buku Born to Be Good. "Ketika menghembuskan nafas, denyut nadi dan tekanan darah turun dan Anda memasuki kondisi tenang. Anda akan merasakan sensasi pelepasan dari tertawa."

* Hubungan yang lebih baik.
Pasangan yang menceritakan lelucon ringan dan ikut tertawa untuk meredakan ketegangan cenderung memiliki perkawinan yang lebih baik, kata psikolog John Gottman, Ph.D., dari Gottman Institute, pusat konseling masalah hubungan sosial di Seattle.

* Melawan stres
Tertawa bisa menurunkan hormon stres dopac, kortisol, dan epinephrine sampai berturut-turut 38%, 39%, dan 70% menurut penelitian di Loma Linda University, California. Penelitian di Universitas Maryland dengan mempertontonkan film pendek, mereka yang menonton film jenaka mengalami peningkatan aliran darah ke jantung sebanyak 22%.

* Merasa lebih sehat
Tertawa tak hanya melepaskan ketegangan, tapi juga membuat Anda lebih sehat. Orang yang tertawa 10 - 25 kali sehari lebih sedikit terkena penyakit dibandingkan dengan mereka yang kurang dari jumlah itu dalam seharinya. Begitu menurut penelitian International Journal of Medical Sciences tahun 2009.

* Bekerja lebih baik
Menurut survei Men's Health, dari hampir 600 lelaki yang menjadi responden, 73%-nya menyatakan bahwa memiliki selera humor membuat mereka lebih baik dalam bekerja.

Jumat, 21 Oktober 2011

Tips Mudah Hilangkan Bentol Gigitan Nyamuk


Jumat, 21 Oktober 2011 21:56 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Nyamuk, selain suaranya yang mengganggu tidur di malam hari, gigitannya juga membuat kulit menjadi gatal.

Salah-salah, jika kita menggaruk, kulit menjadi terluka. Anak-anak berekasi lebih parah terhadap gigitan nyamuk dibandingkan orang dewasa.

Ada sekitar 3500 jenis nyamuk. Beberapa jenis itu memakan darah manusia. Nyamuk betina merupakan salah satu jenis yang memerlukan nutrisi tertentu dari darah untuk bisa bertahan hidup. Mereka memiliki hidung seperti jarum yang digunakan untuk mengumpulkan darah 'korban'.

Luka terbuka, lebih rawan digigit nyamuk. Nyamuk biasanya menyntikkan air liur sampai menembus kulit. Air liur ini mengandung bahan kimia yang dikenal sebagai antikoagulan yang bisa menghambat pembekuan darah, sehingga luka tak kunjung kering.

Bahan kimia dalam air liur nyamuk yang tertinggal ini menyebabkan respon alergi ringan berupa tanda merah dan gatal setelah beberapa jam, bahkan sampai beberapa hari. Untungnya, ada beberapa tips yang bisa dicoba untuk mengurangi gatal-gatal karena digigit nyamuk.

1. Campurkan dua cangkir cuka putih ke dalam bak yang berisi air panas. Anda bisa berendam selama 20 menit. Air panas yang ditambah cuka membantu mengurangi gatal. Selain itu, anda juga bisa mengoleskan cuka menggunakan cotton buds pada bekas gigitan yang masih terasa gatal.

2. Ampas teh kemasan yang sudah dipakai juga bisa mengurangi gatal, dengan mengoleskannya ke kulit. Kandungan tannin yang masih ada di dalam teh bisa digunakan untuk melawan alergi.

3. Gunakan minyak pohon teh untuk dioleskan di bekas gigitan. Banyak ditemui di toko kesehatan, atau dijual online. Minyak pohon teh berfungsi sebagai antiseptik dan antibiotik ampuh untuk mengurangi rasa gatal dan menyengat.

4. Tempelkan es di kulit yang gatal. Dinginnya es bisa membuat mati rasa untuk sementara waktu. Selain itu juga bisa mengurangi efek ‘air liur nyamuk’ yang disimpan dibawah kulit.

5. Bisa juga membuat penangkal gatal dengan daun lavender, kemangi atau pisang. Basahi dan hancurkan, oleskan pada bekas gigitan nyamuk.
Redaktur: Djibril Muhammad
Reporter: Dwi Murdaningsih

STMIK AMIKOM