Selasa, 10 Mei 2011

Agar Gorengan Tak Terlalu 'Berbahaya


TEMPO Interaktif Minggu, 08 Mei 2011,
Siapa tak suka gorengan? Sensasi renyah dan gurihnya saat digigit membuat orang sulit menghindarinya. Menyantap risoles, tahu isi goreng, atau pisang goreng saat senggang pada pagi atau sore hari tentu sangat nikmat.
Widajanti, 56 tahun, ibu rumah tangga di Boyolali, Jawa Tengah, misalnya. Ia tiada hari tanpa menggunakan minyak goreng dalam memasak. Selesai menggoreng kerupuk yang butuh banyak minyak, ia menggoreng lauk. Terakhir, sisa minyak dipakainya untuk menumis sayur. "Sayang kalau dibuang, masih bisa dipakai lagi," ujarnya.

Lain halnya dengan Krisnawati, 40 tahun. Dia menyadari usianya makin tua dan harus memperhatikan kesehatan. Krisnawati kini lebih suka mengukus atau merebus makanan yang dikonsumsinya. Kalaupun harus menggoreng atau menumis, dia hanya sedikit sekali menggunakan minyak.

Karyawan swasta di kawasan Blok M ini mengatakan berupaya mengurangi mengkonsumsi minyak dan makanan yang digoreng untuk kesehatan. "Kalaupun menggoreng, tidak terlalu banyak memakai minyak. Setelah menggoreng, aku buang minyaknya," katanya.

Menurut dokter Inge Permadhi, spesialis gizi klinis dari Rumah Sakit Siloam Semanggi, gorengan atau makanan yang diolah dengan digoreng idealnya memang dihindari total. Tapi, jika tidak mungkin menghindari, kreativitas mengolah makanan bisa jadi senjata.

"Makanan yang digoreng, selain hancur mikro-nutrisinya, minyak yang terserap makanan berbahaya untuk kesehatan kita," kata Inge saat ditemui seusai jumpa wartawan acara seminar bertajuk "Pentingnya Sarapan" di Jakarta beberapa waktu lalu.

Minyak goreng yang dipanaskan, apalagi secara berulang, akan meningkatkan kandungan lemak trans. Lemak trans adalah nama umum untuk lemak tak jenuh. Sebagian besar lemak trans disintesiskan secara artifisial atau buatan. Biasanya dengan proses kimiawi memadatkan minyak cair.

Kadar lemak trans yang tinggi dalam tubuh bisa meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) dan menurunkan kadar kolesterol baik (HDL) dalam darah. Akibatnya, terjadi pembekuan darah, muncul endapan, dan mempersempit pembuluh darah, sehingga kesehatan jantung terancam. Seperti diketahui, penyakit jantung koroner telah menjadi penyebab nomor satu kematian di Indonesia.

Karena itu, Inge menyarankan, saat menumis sebaiknya sesedikit mungkin menggunakan minyak goreng. "Lebih baik gunakan penggorengan antilengket dan gunakan sedikit minyak hanya untuk menumis sebentar bumbunya."

Senada dengan Inge, chef Edwin Lau mengatakan makanan yang digoreng memang belum tentu menyehatkan tubuh. "Tergantung apa yang digoreng, bagaimana cara menggoreng, dan siapa yang mengkonsumsi makanan gorengan itu," ujar Edwin melalui surat elektronik.

Dia mencontohkan, makanan seperti jeroan ayam atau sapi yang digoreng tidak sehat. Sebab, jeroan sendiri sudah mengandung lemak jenuh yang tinggi. Pria yang pernah bekerja di berbagai hotel bintang lima ini mengatakan banyak jenis minyak yang bisa digunakan untuk memasak.

"Minyak sawit, minyak kelapa, minyak babi, bebek, dan ayam memiliki kandungan lemak jenuh yang sangat tinggi," ujar pria yang mengambil spesialisasi masakan sehat ini.

Sedangkan minyak zaitun, biji bunga matahari, biji bunga kapas (safflower), minyak kacang, minyak jagung, canola, minyak kulit padi, minyak wijen, dan minyak biji anggur memiliki kandungan asam lemak tak jenuh tunggal dan ganda yang lebih tinggi.

Edwin mengatakan ada aturan khusus untuk memasak agar tidak merusak kandungan vitamin, protein, atau mineral makanan. "Contohnya, salmon akan rusak Omega-3-nya kalau terlalu lama (dimasak)," ujarnya.

Saat memasak pun disarankan memakai minyak yang sudah mencapai suhu tinggi. Sebab, semakin rendah suhu akan makin banyak makanan menyerap minyak. "Tekniknya juga harus benar supaya tidak 'minum' minyak," ujarnya.

Dia menyarankan tidak menggoreng untuk mematangkan makanan. Hal ini akan membuat makanan menyerap lebih banyak minyak. "Gunakan hanya untuk dapat tekstur renyah pada kulitnya untuk meminimalkan minyak," ujar pemilik tubuh bagus ini.

Penggunaan minyak untuk menggoreng lebih dari sekali tidak disarankan. Sebab, minyak sudah mencapai titik didih dan berpotensi menghasilkan lemak yang berbahaya bagi pembuluh darah. Dia pun menyarankan agar mengkonsumsi makanan yang dimasak dengan teknik masak lebih ramah kesehatan, seperti dikukus, direbus, dipanggang di oven, dan ditumis dengan sedikit minyak.


Tip Menggoreng Sehat

1. Gunakan penggorengan dengan lapisan antilengket untuk mengurangi penggunaan minyak.
2. Gunakan minyak yang sehat, seperti minyak canola.
3. Hindari deep fried atau menggoreng dengan suhu tinggi dalam waktu yang lama.
4. Menumis bumbu dengan sedikit minyak. Lalu buang minyak, campur bumbu ke dalam masakan. Setelah matang dan diangkat, tuang sedikit margarin di atas tumisan untuk memberi efek kilau minyak.
5. Pastikan suhu minyak cukup tinggi untuk meminimalkan penyerapan minyak ke makanan.
6. Jangan menggoreng makanan dalam jumlah banyak sekaligus karena akan mengganggu suhu minyak dan membuat minyak lebih banyak terserap.
7. Kukus makanan sebelum digoreng untuk mematangkan bagian dalam dan mengurangi kontak terlalu lama dengan minyak.
8. Tiriskan minyak dengan sempurna sebelum makanan disajikan. Gunakan kertas penyerap minyak.

DIAN YULIASTUTI | UTAMI WIDOWATI

Minggu, 10 April 2011

Lamaknyo Katupek Pical Tek Apuak


Jakarta detikFood- Secangkir kopi tubruk Bukit Api yang wangi mengepul menjadi pembuka pagi sejuk. Udara dingin Bukittinggi pun bisa diredam dengan racikan katupek pical ini. Berisi sayuran dan mi yang disiram kuah gulai dan saus kacang. Rasanya perpaduan renyah, gurih, dan sedikit pedas. Porsinya pas buat pengisi perut di pagi hari. Nyam..nyam onde mande lamaknyo!

Singgah ke Bukittinggi yang sejuk ternyata membuat perut selalu saja lapar. Karena itu pagi hari sengaja kami tak sarapan di hotel. Kami memilih berjalan-jalan menyusuri pasar bawah yang merupakan pasar terbesar di Bukittinggi. Kami sedang beruntung karena hari Sabtu merupakan hari pasar.

Pasar bawah merupakan pasar tradisional yang menjual aneka bahan-bahan kebutuhan dapur. Sedangkan pasar atas yang ada di atas bukit merupakan pasar yang menjual aneka kebutuhan lain seperti baju, sandal, sepatu, kaset, dan lain-lain.

Karena ada di perbukitan makan sayuran dan buah-buahannya sangat bagus mutunya. Dari pakis yang besar dan bagus, wortel dan kubis yang gendut hingga beragam jenis kacang-kacangan. Tak ketinggalan aneka jenis ikan segar dan asin. Juga jajanan yang berupa kue basah dan kue kering yang sangat banyak ragamnya.

Meskipun sudah mencicipi beragam jenis kue, ternyata perut belum juga kenyang. Kembali Los Lambuang di pasar atas menjadi incaran. Los ini merupakan los khusus penjual makanan yang berupa deretan warung makan. Selain nasi kapau juga terdapat kios-kios penjual katupek pical.

Katupek Pical Tek Apuak milik Sutan Bagindo merupakan salah satu kios yang terkenal. Karena masih pagi tak banyak pengunjung yang makan. Di bagian tengah kios ini terletak meja racik. Berisi panci dan baskom besar, berisi gulai sayuran, aneka sayuran rebus, mi kuning dan saus kacang. Di kelilingnya ditaruh jajaran bangku panjang. Jadi persis seperti warung kopi di Jawa.

Katupek Pical merupakan racikan khas Minang untuk ketupat sayur yang disatukan dengan pecel. Dengan cekatan sang penjual menaruh setengah potong besar ketupat di dalam piring. Kemudian diberi sayuran seperti irisan halus kol, daun singkong rebus, pakis dan mi kuning. Kemudian disiram dengan saus kacang dan diberi gulai sayuran.

Gulai sayurannya tak beda jauh yang biasa dipakai untuk ketupat sayur. Potongan nangka muda, kemumu, rebung dan daun kol. Toppingnya berupa remasan kerupuk kanji berwarna merah meriah. Hmm... kayak apa ya rasanya? Ternyata hirupan kuahnya teras gurih santan dan gurih halus saus kacang yang beradu jadi satu. Unik dan enak.

Saus kacang yang halus dan encer membuatnya mudah menyatu dengan kuah gulai yang gurih pedas. Rasa renyah irisan kol menyatu dengan nangka muda yang lembut. Ditambah rasa kenyal-kenyal mi kuning. Benar-benar penuh sensasi dan ramai rasanya. Belum lagi tambahan kerupuk yang renyah bikin racikan ketupat ini makin komplet dan sedap!

Kalau ingin lebih mantap, tinggal meminta tambahan lauk seperti telur balado, rendang daging, gulai tambusu atau ayam. Lauk ini biasanya diambil dari warung nasi kapau yang ada di sekitar warung ini. Sambil menghabiskan sisa kuah di piring cekung, penjualpun mulai sibuk meracik katupek langsung beberapa piring sekaligus.

Atraksi dan ketrampilannya tak kalah dengan pelayan rumah makan Minang. Beberapa piring sekaligus di tata di atas lengan. Diberi racikan katupek, dan disiram saus kacang dengan cangkir mungil. Wah, dalam sekali racik sang penjual bisa menyajikan 5 piring sekaligus.

Sebenarnya kami mengincar teh talua (teh telur) tetapi karena perut sudah keburu kenyang dengan seporsi katupek pical. Harga sarapan sedap ini hanya Rp. 6.000,00 se piring. Jika tak suka pical, bisa juga memesan katupek sayur biasa, ketupat yang disiram gulai sayuran. Wah, dengan lelehan keringat dan perut kenyang kami meninggalkan los lambuang.

Katupek Pical Tek Apuak
Los Lambuang
Pasar Atas Bukittinggi



(eka/Odi)

Rabu, 30 Maret 2011

Usir Plak Gigi dengan Jus Stroberi

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA - Jus buah stroberi dapat mencegah pembentukan plak gigi yang dapat memicu kemunculan penyakit gigi dan mulut, kata peneliti dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Rahmi Ayu Budi Amalia.
"Kandungan bahan pemanis alami berupa xylitol dan polifenol pada stroberi terbukti mampu mengurangi kolonisasi 'streptococcus mutans' yang bisa menghambat aktivitas enzim sehingga mampu mencegah pembentukan plak," katanya di Yogyakarta, Senin.

Dengan demikian, menurut dia saat memaparkan hasil penelitiannya, konsumsi jus stroberi berpengaruh signifikan dalam menurunkan indeks plak gigi.

Ia mengatakan, secara umum stroberi mengandung nutrisi seperti protein, lemak, karbohidrat, dan energi. Mineral potensial yang terkandung didalamnya adalah kalsium, fosfor, zat besi, magnesium, potassium, selenium, vitamin C, dan asam folat.
"Stroberi juga terbukti memiliki aktivitas antioksidan dua kali lipat lebih tinggi dibanding anggur merah, lima kali lipat dari apel dan pisang, dan sepuluh kali lipat dari semangka," katanya.

Jadi, menurut dia, stroberi memiliki banyak manfaat bagi kesehatan manusia, termasuk mengurangi akumulasi plak gigi sehingga dapat mencegah munculnya penyakit gigi dan mulut.

Ia mengatakan, plak merupakan penyebab utama yang memicu kemunculan penyakit gigi dan mulut, di antaranya karies (gigi berlubang), calculus (karang gigi), gingivitis (radang pada gusi), dan periodontitis (radang pada jaringan penyangga gigi).

"Mengingat pembentukan plak merupakan proses yang tidak dapat dihindari, maka mengurangi akumulasi plak menjadi hal yangsangat penting dalam mencegah terbentuknya penyakit gigi dan mulut. Salah satunya dengan mengonsumsi jus stroberi," katanya.

Menurut dia, dengan meminum jus stroberi, rasa asamnya akan merangsang sekresi saliva dalam jumlah tinggi. Akibatnya, saliva menjadi lebih encer dan viskositas saliva pun menjadi lebih rendah.
"Akhirnya, plak gigi dapat dikurangi sehingga munculnya penyakit gigi dan mulut juga dapat dicegah," kata mahasiswi Program Studi Kedokteran Gigi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) itu.

Minggu, 13 Maret 2011

Keajaiban si Kulit Pisang


AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Jakarta, Kulit pisang sering membuat orang jatuh terpeleset saat menginjaknya, sehingga dianggap sebagai sampah yang paling menyebalkan. Padahal sebenarnya kulit pisang punya beragam manfaat, mulai dari mengobati kutil hingga mengkilapkan sepatu.

Salah satu manfaatnya seperti yang pernah ditulis detikHealth adalah memurnikan air. Menurut sebuah penelitian di jurnal Industrial & Engineering Chemistry Research, kulit pisang bisa menyaring logam berat terutama timbal (Pb) dan tembaga (Cu).

Dalam penelitian tersebut, kulit pisang yang digunakan tidak dimodifikasi melainkan hanya dicincang kecil-kecil lalu dimasukkan ke dalam air ayng tercemar. Cincangan kulit pisang bisa dugunakan hingga 11 kali tanpa kehilangan kemampuannya untuk menyerap logam berat.

Sementara itu dikutip dari Re-nest.com, Minggu (13/3/2011), masih banyak manfaat lain dari kulit pisang selain untuk memurnikan air. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Meredakan nyeri
Minyak nabati yang terkandung dalam kulit pisang punya senyawa tertentu yang berkhasiat sebagai pereda nyeri. Tempelkan kulit pisang yang bersih dan masih segar untuk mengurangi rasa nyeri pada luka bakar atau tergores.

2. Mengatasi gatal
Gatal-gatal akibat gigitan serangga atau alergi ringan bisa diatasi dengan kulit pisang. Caranya cukup dengan menempelkannya di permukaan kulit yang terasa gatal.

3. Mengobati kutil
Kulit pisang diyakini punya aktivitas antivirus, sehingga banyak yang menggunakannya untuk mengusir kutil dari permukaan kulit. Caranya dengan menempelkan kulit pisang, lalu ditahan dengan plester dan dibiarkan hingga sembuh dengan sendirinya.

4. Mempercepat kesembuhan luka
Luka yang sudah mulai kering terasa gatal karena tertutup serpihan kulit mati yang mengeras. Serpihan itu bisa dihilangkan lebih cepat hanya dengan mengoleskan kulit pisang, karena akan bereaksi dengan enzim yang terkandung di dalamnya.

5. Menyuburkan tanah
Tidak hanya untuk campuran kompos, kulit pisang bisa langsung ditimbun begitu saja ke dalam tanah untuk menyuburkan tanaman di sekitarnya. Kulit pisang memiliki kandungan potassium yang sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan tanaman.

6. Mengkilapkan tanaman hias
Berbagai tanaman hias semacam anthurium, gelombang cinta dan sejenisnya akan lebih menarik jika daunnya tampak hijau mengkilap. Gunakan sisi dalam kulit pisang yang teksturnya lunak untuk memolesnya, maka dedaunan itu akan mengkilap dan lebih tahan lama.

7. Mengkilapkan sepatu
Tidak perlu panik jika suatu saat kehabisan semir sepatu, asalkan ada pisang di lemari es. Kupas biuahnya, lalu gunakan kulitnya untuk memoles sepatu kulit agar tampak mengkilap seperti habis disemir.


(up/ir)

Kamis, 10 Maret 2011

Dijadikan Obat Kanker Payudara


AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Jakarta, Herbal Laban Abang memang kalah populer dibandingkan Delima dan Pacar China, meski ketiganya masih berkerabat dalam genus Aglaia. Padahal jika dilihat khasiatnya, Laban Abang sangat potensial dikembangkan menjadi obat kanker payudara.

Laban Abang (Aglaia elliptica Blume) merupakan tanaman dari genus Aglaia yang mudah ditemukan di daerah beriklim tropis dan subtropis. Persebarannya antara lain meliputi Asia Tenggara, Australia bagian utara dan sebagian besar wilayah di Kepulauan Pasifik.

Dalam tradisi masyarakat Vietnam, Laban Abang pada awalnya dipakai sebagai pestisida atau pengusir hama di sawah. Karena mampu membunuh larva serangga, para ahli menduga tanaman ini memiliki senyawa sitotoksik (pembunuh sel) yang bisa dimanfaatkan untuk mengobati kanker.

Sejak awal dekade 2000-an, para ahli mulai gencar meneliti tanaman ini dan menemukan senyawa antikanker yang dinamakan Rocaglamid. Senyawa berkhasiat obat ini bisa ditemukan di berbagai bagian tanaman Laban Abang, termasuk batang, daun dan bijinya.

Khasiatnya dalam menghambat pertumbuhan kanker payudara dibuktikan baru-baru ini oleh Kepala laboratorium Teknologi Farmasi dan Medika, Badan Pengkajian Dan Penerapan Teknologi (BPPT), Dr Agung Eru Wibowo, Msc, Apt dalam sebuah penelitian untuk desertasi doktoralnya.

"Hasil uji menunjukkan ekstrak Rocaglamid dalam daun Laban Abang memberi efek protektif (melindungi) dan kuratif (menyembuhkan) pada tikus yang diberi senyawa pemicu kanker mamae," ungkap Dr Agung usai sidang promosi doktoral di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Rabu (9/3/2011).

Meski demikian, Dr Agung masih akan melanjutkan penelitian ini sebelum merekomendasikan penggunaannya pada manusia. Ia berharap, uji klinis terbatas serta uji toksisitas kronis untuk melihat efek samping pada pemakaian jangka panjang sudah bisa dilakukan pada 2012.

Harapan untuk mengembangkan Laban Abang sebagai obat kanker payudara bukan hal yang mustahil mengingat beberapa obat kanker awalnya dikembangkan dari herbal. Vincristine dan Vinblastine misalnya, senyawa berkhasiatnya ditemukan pertama kali dalam herbal Tapak Dara (Catharanthus roseus).


(up/ir)