Bogor (ANTARA News) - Kepala Pusat Studi Biofarmaka Institut Pertanian Bogor Prof Latifah K Darusman menyatakan perlunya untuk memperkenalkan tanaman herbal atau tanaman obat sejak dini kepada anak-anak.
"Karena saat ini kepercayaan masyarakat mulai berkurang akibat banyaknya produk jamu yang menggunakan bahan sintetis," katanya di Bogor, Jawa Barat, Selasa.
Terkait dengan hal itu, Pusat Studi Biofarmaka (PSB) IPB dalam rangka Dies Natalis ke-49 tahun 2012 telah menggelar lomba menggambar untuk siswa dan siswi sekolah dasar dengan mengangkat tema "Gemar Minum Jamu".
Ia menjelaskan, diperlukan upaya terus menerus untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat akan khasiat jamu melalui tanaman herbal yang dimiliki Indonesia.
"Dan salah satu upaya itu kita mulai dari anak anak, karena banyak yang tidak mengenal obat-obat yang bersumber dari bahan alami," katanya.
"Bahkan, belum tentu mereka mengenal bahwa bumbu dapur yang biasa digunakan orang tuanya memasak, bisa juga digunakan untuk obat," katanya.
Dikemukakannya bahwa tidak kurang dari 15.000 tanaman herbal yang dapat tumbuh di Indonesia.
"Saat ini Pusat Studi Biofarmaka IPB tengah mengembangkan database jamu dan tanaman herbal berbasis teknologi informasi untuk penguatan peran jamu di Indonesia," katanya.
Pada acara lokakarya "Jamu-Informatics" yang mengusung tema "Menggali Pengetahuan dari Database Jamu Menggunakan Teknik Bioinformatika" di IPB International Convention Center pada Senin (1/10), kata dia, juga dihadirkan narasumber dari NAIST Jepang Dr Shigehiko Kanaya dan berbagai kalangan dari akademisi, instansi dan para wiraswasta.
Latifah K Darusman menjelaskan bahwa "Jamu Informatics" atau database jamu ini dikembangkan pihaknya bekerja sama dengan NAIST Jepang.
Sedangkan mengenai rincian database-nya berjumlah sekitar 5.310 jamu, 797 produsen dan 654 tanaman atau 1.133 herbal.
Ia menyebutkan bahwa data jamu yang disediakan merupakan data yang sudah terdaftar di Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).
Selain database berbagai jamu yang ada di Indonesia melalui "Jamu Informatics" juga akan ditampilkan referensi hasil-hasil penelitian terhadap jamu yang terdapat dalam database.
Dalam lokakarya itu, salah satu peserta Wawan dari Kampung Jamu Organik, Cikarang, Kabupaten Bekasi menyampaikan pembuatan database jamu itu akan sangat berguna jika diaplikasikan di perusahaannya.
Menurut dia, saat ini ada sekitar 300 jenis tanaman herbal yang dikembangkan di perusahaannya yang juga tercatat di BPOM.
Wawan mengatakan, meski perusahaannya bergerak dalam hal budi daya,tapi "Jamu Informatics" dianggapnya penting untuk diimplementasikan.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Bisnis dan Komunikasi IPB Dr Arif Imam Soeroso mengimbau masyarakat untuk senantiasa membiasakan minum jamu.
Ia berharap produk jamu dapat berhasil mengangkat Indonesia di mata Internasional, karena saat ini ada sekitar 300 tanaman sedang dilakukan upaya pengembangan untuk menjadi obat dan sekitar 10 produk yang sudah ada di pasar. (A035/M026)
Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © 2012
Selasa, 02 Oktober 2012
Tanaman herbal perlu dikenalkan sejak dini
Bogor (ANTARA News) - Kepala Pusat Studi Biofarmaka Institut Pertanian Bogor Prof Latifah K Darusman menyatakan perlunya untuk memperkenalkan tanaman herbal atau tanaman obat sejak dini kepada anak-anak.
"Karena saat ini kepercayaan masyarakat mulai berkurang akibat banyaknya produk jamu yang menggunakan bahan sintetis," katanya di Bogor, Jawa Barat, Selasa.
Terkait dengan hal itu, Pusat Studi Biofarmaka (PSB) IPB dalam rangka Dies Natalis ke-49 tahun 2012 telah menggelar lomba menggambar untuk siswa dan siswi sekolah dasar dengan mengangkat tema "Gemar Minum Jamu".
Ia menjelaskan, diperlukan upaya terus menerus untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat akan khasiat jamu melalui tanaman herbal yang dimiliki Indonesia.
"Dan salah satu upaya itu kita mulai dari anak anak, karena banyak yang tidak mengenal obat-obat yang bersumber dari bahan alami," katanya.
"Bahkan, belum tentu mereka mengenal bahwa bumbu dapur yang biasa digunakan orang tuanya memasak, bisa juga digunakan untuk obat," katanya.
Dikemukakannya bahwa tidak kurang dari 15.000 tanaman herbal yang dapat tumbuh di Indonesia.
"Saat ini Pusat Studi Biofarmaka IPB tengah mengembangkan database jamu dan tanaman herbal berbasis teknologi informasi untuk penguatan peran jamu di Indonesia," katanya.
Pada acara lokakarya "Jamu-Informatics" yang mengusung tema "Menggali Pengetahuan dari Database Jamu Menggunakan Teknik Bioinformatika" di IPB International Convention Center pada Senin (1/10), kata dia, juga dihadirkan narasumber dari NAIST Jepang Dr Shigehiko Kanaya dan berbagai kalangan dari akademisi, instansi dan para wiraswasta.
Latifah K Darusman menjelaskan bahwa "Jamu Informatics" atau database jamu ini dikembangkan pihaknya bekerja sama dengan NAIST Jepang.
Sedangkan mengenai rincian database-nya berjumlah sekitar 5.310 jamu, 797 produsen dan 654 tanaman atau 1.133 herbal.
Ia menyebutkan bahwa data jamu yang disediakan merupakan data yang sudah terdaftar di Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).
Selain database berbagai jamu yang ada di Indonesia melalui "Jamu Informatics" juga akan ditampilkan referensi hasil-hasil penelitian terhadap jamu yang terdapat dalam database.
Dalam lokakarya itu, salah satu peserta Wawan dari Kampung Jamu Organik, Cikarang, Kabupaten Bekasi menyampaikan pembuatan database jamu itu akan sangat berguna jika diaplikasikan di perusahaannya.
Menurut dia, saat ini ada sekitar 300 jenis tanaman herbal yang dikembangkan di perusahaannya yang juga tercatat di BPOM.
Wawan mengatakan, meski perusahaannya bergerak dalam hal budi daya,tapi "Jamu Informatics" dianggapnya penting untuk diimplementasikan.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Bisnis dan Komunikasi IPB Dr Arif Imam Soeroso mengimbau masyarakat untuk senantiasa membiasakan minum jamu.
Ia berharap produk jamu dapat berhasil mengangkat Indonesia di mata Internasional, karena saat ini ada sekitar 300 tanaman sedang dilakukan upaya pengembangan untuk menjadi obat dan sekitar 10 produk yang sudah ada di pasar. (A035/M026)
Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © 2012
Sabtu, 25 Agustus 2012
Gadis Kembar Siam 1 Badan 2 Kepala yang Tenar Jadi Bintang TV
DetikHealth : Minnesota, AS, Tak banyak bayi kembar siam yang belum melakukan operasi pemisahan dapat bertahan hidup. Tapi gadis kembar siam Abigail dan Brittany Hensel bisa bertahan hingga berusia 22 tahun, bahkan kini terkenal menjadi bintang TV.
Abigail dan Brittany Hensel merupakan bayi kembar siam yang memiliki dua kepala tapi satu badan, dilahirkan di Minnesota, AS, pada 7 Maret 1990.
Gadis kembar ini mengalami kondisi yang dikenal sebagai dicephalic parapagus, di mana mereka berbagi hanya satu tubuh dengan dua kepala. Kondisi ini sangat langka dan hanya terjadi sekitar 1 dari 100.000 kelahiran hidup.
Secara fisiologis, kembar Hensel ini memiliki organ tubuh 2 kepala; 2 tulang ekor yang terpisah; 2 lengan; 2 payudara; 2 jantung yang terbagi dalam sistem peredaran darah; 4 paru-paru dengan paru-paru medial agak menyatu, tidak melibatkan lobus kanan atas pada tubuh Brittany, 3 rongga pleura; 1 diafragma yang terkoordinasi dengan baik untuk pernapasan spontan, cacat pusat sedikit; 2 kantong empedu; 1 hati, lobus kanan yang membesar dan memanjang; 1 usus besar; 1 set organ reproduksi; 1 kandung kemih; 2 tulang kelangkang yang terpisah; 2 kaki dan 1 panggul agak luas.
Meski memiliki satu tubuh yang sama, tapi kondisi kesehata Abigail dan Brittany tidaklah sama. Menurut dokter keluarga, Brittany lebih rentan terhadap flu dan batuk dibanding Abigail.
Namun ketika yang satu minum obat oral tertentu, maka penyakit kembar yang lain juga bisa hilang karena sistem tubuh terhubung dengan peredaran darah yang sama.
Abigail dan Brittney memiliki sistem saraf yang berbeda, meskipun mereka berbagi organ umum lainnya. Misalnya, ketika seseorang menggelitik Abby di bagian mana saja dari kepala hingga jari kaki, maka Britt pasti akan merasakan sensasinya. Di sisi lain, dorongan atau kebutuhan untuk buang air kecil, tidur dan rasa lapar juga sangat berbeda satu sama lain.
Secara akademis, mereka mampu menyelesaikan sekolah pada tahun 2008 dan telah memasuki kuliah di Bethel University, di Saint Paul Minnesota. Dalam sekolah yang sama mereka juga menjadi mahasiswi tahun 2009.
Abigail dan Brittany ingin menunjukkan pada seluruh dunia bahwa mereka dapat hidup senormal orang lain. Si kembar Hensel ini bahkan memiliki 2 SIM (surat izin mengemudi) yang berbeda.
Kisah hidup kembar siam ini pun pernah ditayangkan secara dokumenter pada tahun 2008 di channel TV Amerika, TLC. Sejak saat itu mereka mulai terkenal.
TLC juga memberi mereka tayangan reality show sendiri, yang tayang setiap hari Selasa, seperti dilansir People.com, Kamis (9/8/2012).
(mer/ir)
Kamis, 02 Agustus 2012
Manggis dan Sawo Dikombinasikan Jadilah Obat Diabetes
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tiga mahasiswa Universitas Diponegoro, Semarang, berhasil mengembangkan ekstrak kulit manggis dan sawo untuk menurunkan kadar gula darah pada tubuh penderita diabetes melitus. Ketiga mahasiswa dari program studi D3 Teknik Kimia itu adalah Isabel Triesty, Aprisal Setyo dan Novia Nurul.
Melalui penelitian tentang khasiat ekstrak kulit manggis dan sawo itu, mereka meraih juara harapan III dalam Lomba Karya Tulis Inovatif Mahasiswa (LKTIM). Acara lomba diadakan oleh Dinas Pendidikan Jawa Tengah.
Isabel Triesty mengatakan kombinasi ekstrak kulit manggis dan sawo dapat menurunkan kadar gula darah tubuh karena mengandung antioksidan tinggi. Antioksidan dapat digunakan untuk memperbaiki insulin dalam tubuh yang rusak.
Isabel berharap karya mereka itu dapat menjadi obat herbal yang dapat dijangkau masyarakat luas, terutama dari kalangan tidak mampu. Sebab, menurut dia, penyakit diabetes melitus juga menyerang masyarakat kurang mampu.
Dengan adanya ekstrak kulit manggis dan sawo, obat herbal untuk penderita diabetes melitus dapat dibuat dengan biaya yang murah tetapi memiliki khasiat yang tidak kalah dengan obat dari apotek.
Masyarakat biasanya mengonsumsi buah manggis hanya daging buahnya saja. Sementara, kulitnya dibuang. ''Padahal, ternyata kulit manggis yang biasa dibuang itu memiliki khasiat tinggi,'' kata Isabel
Kamis, 26 Juli 2012
BBPOM temukan bahan kimia pada jajanan buka puasa
Jakarta (ANTARA News) - Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) DKI Jakarta menemukan kandungan bahan kimia berbahaya seperti pewarna sintetis Methanil Yellow dan Rhodhamin B serta boraks pada beberapa jajanan buka puasa.
"Kami menemukan kandungan boraks, Methanil Yellow dan Rhodamin-B, terkandung dalam sampel asinan yang kami ambil tadi," kata Kepala BBPOM DKI Jakarta, Sri Rahayu, saat melakukan inspeksi mendadak di Pasar Bendungan Hilir Jakarta, Kamis sore.
Ia menambahkan, kandungan boraks dan pewarna sintetis Methanil Yellow ditemukan dalam mie kuning basah pada sampel asinan yang diperiksa.
"Kalau kerupuk merah yang ada pada asinan tadi, sudah terbukti mengandung Rhodamin-B, yang merupakan pewarna merah untuk tekstil dan ini jelas bukan untuk pangan," katanya.
Selain pada asinan, bahan kimia berbahaya juga ditemukan terkandung pada kue mangkok, dan tahu isi.
Sri Rahayu mengemukakan selanjutnya BBPOM akan melakukan pembinaan dengan memberikan informasi kepada para pedagang supaya tidak lagi menjual makanan yang mengandung bahan yang dapat membahayakan kesehatan masyarakat.
"Kami juga akan melakukan pengamanan andaikata itu membahayakan kesehatan masyarakat," katanya.
Dia menjelaskan pula bahwa tahun lalu BBPOM melakukan inspeksi ke lokasi yang sama, memeriksa 69 sampel makanan dan menemukan 15 persen makanan pembuka puasa mengandung bahan kimia berbahaya.
(M048)
Ia menambahkan, kandungan boraks dan pewarna sintetis Methanil Yellow ditemukan dalam mie kuning basah pada sampel asinan yang diperiksa.
"Kalau kerupuk merah yang ada pada asinan tadi, sudah terbukti mengandung Rhodamin-B, yang merupakan pewarna merah untuk tekstil dan ini jelas bukan untuk pangan," katanya.
Selain pada asinan, bahan kimia berbahaya juga ditemukan terkandung pada kue mangkok, dan tahu isi.
Sri Rahayu mengemukakan selanjutnya BBPOM akan melakukan pembinaan dengan memberikan informasi kepada para pedagang supaya tidak lagi menjual makanan yang mengandung bahan yang dapat membahayakan kesehatan masyarakat.
"Kami juga akan melakukan pengamanan andaikata itu membahayakan kesehatan masyarakat," katanya.
Dia menjelaskan pula bahwa tahun lalu BBPOM melakukan inspeksi ke lokasi yang sama, memeriksa 69 sampel makanan dan menemukan 15 persen makanan pembuka puasa mengandung bahan kimia berbahaya.
(M048)
Jumat, 29 Juni 2012
Kakus Hebat Ubah Tinja Jadi Listrik
No-Mix Vacuum Toilet buatan Nanyang Technological University, Singapura
SINGAPURA, KOMPAS.com - Ilmuwan dari Nanyang Technological University menciptakan kakus hebat yang bisa mengubah tinja menjadi listrik dan pupuk, sekaligus menghemat pemakaian air sebanyak 90 persen.
Jamban dengan nama No-Mix Vacuum Toilet tersebut memiliki dua wadah untuk memisahkan limbah padat dan cair. Jamban ini menggunakan tekanan untuk "mengguyur" tinja. Jadi, jumlah air yang dibutuhkan untuk sekali guyur hanya 0,2 liter alias secangkir.
Toilet konvensional di Singapura saat ini membutuhkan 4-6 liter air sekali guyur. Jika jamban inovatif ini diaplikasikan di toilet umum, dengan 100 kali guyuran sehari, maka kakus ini bisa menghemat 160.000 liter. Volume itu cukup untuk mengisi kolam renang berukuran 10 x 8 x 2 meter.
Untuk menghasilkan listrik dan pupuk, kakus ini akan memisahkan komponen padat dan cair. Dari kakus lewat sistem pembuangan, limbah cair akan dikirim ke fasilitas pengolahan tempat nitrogen, fosfor, dan potasium akan dipanen.
Pada saat yang sama, tinja akan dikirim ke bioreaktor untuk diolah agar menghasilkan biogas yang kaya metana. Metana nantinya bisa dimanfaatkan sebagai pengganti gas untuk memasak maupun diubah menjadi listrik.
"Dengan toilet inovatif kami, kita bisa memakai cara yang lebih sederhana dan murah untuk menghasilkan unsur berguna dan memproduksi bahan bakar dan energi dari limbah," kata Wang Jing-Yuan, Direktur Residues and Resource Reclamation Centre (R3C) di NTU.
Terpadu dengan sistem itu, air yang telah dipakai untuk mencuci, mandi, dan dari dapur bisa dipakai lewat sistem drainase tanpa pengolahan kompleks. Adapun limbah makan an juga bisa dikirim ke bioreaktor untuk dijadikan kompos.
Dari informasi di website NTU, kakus ini mulai akan diuji secara terbatas di Kampus NTU. Pengujinya adalah 500 mahasiswa yang diminta memakainya. Setelahnya, kakus akan diuji selama 2 tahun di Singapura.
Sumber :
Nanyang Technological University
Editor :
Laksono Hari W
Langganan:
Postingan (Atom)